oleh

Ke-Indonesiaan Bulutangkis, Catatan Sami Leo Lantang

Sam Lantang.

Bicara sepakbola dunia, tanpa menyebutkan nama negara Brasil, jelas tidak lengkap. Sepakbola adalah sama dengan Negeri Samba itu. Ada tim nasional yang pernah berkali-kali juara Piala Dunia dan Olimpiade, serta turnamen lainnya yang bergengsi.

Demikian juga bicara bulutangkis, tanpa menyebut nama Indonesia, jelas bicara kosong semata. Dalam cabang olaharag bulutangkis, sejak Abad ke-20 sampai abad sekarang ini, ke-21, nama Indonesia selalu ada dalam kejuaraan dan turnamen penting internasional.

Jika sepakbola, Brasil punya Pele, maka di bulutangkis Indonesia punya Rudy Hartono yang delapan kali juara All England, yang dianggap kejuaraan dunia perorangan tidak resmi. Bahkan, hebatnya Rudy tujuh kali berturut-turut sebagai juara tunggal putra.

Dalam kejuaraan nomor beregu, prestasi dunia pemain-pemain Indonesia luar biasa. Tiga belas kali juara Piala Thomas, kejuaraan dunia beregu putra. Tiga kali juara Piala Uber, kejuaraan dunia beregu putri. Sekali juara Piala Sudirman, kejuaraan dunia beregu campuran, putra dan putri dan enam kali sebagai juara kedua.

BACA JUGA:  Kunjungi Masjidil Haram Wajib Vaksin dan Bebas Covid-19

Para pemain Indonesia, putra maupun putri, selalu menampilkan prestasi di pelbagai turnamen penting yang diselenggarakan setiap tahun di Asia, Eropa, Amerika maupun Australia. Mereka menjuarai dalam nomor tunggal putra/putri, ganda putra/putri dan ganda campuran.

Melihat sejarah prestasi bulutangkis Indonesia, sejak 14-15 Juni 1958, ketika pertama kali Indonesia merebut Piala Thomas di Singapura dengan mengalahkan juara bertahan Persekutuan Tanah Melayu Malaya (sekarang Malaysia), maka bulutangkis merupakan cabang olahraga buat Indonesia di tingkat dunia. Indonesia saat itu baru berumur 12 tahun 10 bulan.

Saat itu, Indonesia negara baru yang baru pertama kali melakukan Pemilu, 1955, baru lagi sibuk membicarakan UUD di parlemen. Kabinet pemerintah juga masih silih berganti.

Namun, bulutangkis sudah bisa mengalahkan Malaya, kekuatan raksasa dunia bulutangkis saat. Hebatnya lagi, pemain yang tampil di Singapura, sudah menampilkan kebhinekatunggal kita. Tan You Hok, mewakili keturunan Tionghoa, Ferry Sonneville, sebagai wakil Eropa, dan bumi putra Eddy Yusuf putra Tanah Priangan.

BACA JUGA:  1250 Siswa SMPN Pebayuran Ikut Vaksinasi

Sejak juara Piala Thomas 1958, keindonesian semakin nyata di bulutangkis.   Pertama, Indonesia, sebagai bangsa dan negara, memang tidak bisa dipisah dari  bulutangkis dunia, karena prestasi atlet putra dan putri kita.

Meng-Indonesiakan SARA

Bulutangkia juga semakin berperan dalam mengindonesiakan semua ras, suku, agama. Semua bangga karena prestasi atlet yang membanggakan.

Hanya melalui bulutangkias, Indonesia Raya berkumandang, sebanyak tiga kali. Sekali, dalam bulan Agustus yang lalu, di Olimpiade Tokyo 2020, dua kali di Paralimpiade Tokyo 2020, September bulan ini.

Prestasi para arlet bulutangkis di Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo, punya arti penting bagi bangsa Indonesia.

Selain semakin mempersatukan bangsa, membangkit kembali semangat masyarakat yang merosot akibat pelbagai dampak yang ditimbulkan Covid 19.

Semakin mengindonesiakan bulutangkis, juga terlihat dari daerah asal atlet yang merebut medali di dua kegiatan olahraga yang berlangsung pada Agustus dan September 2021 di ibukota Jepang.

Di Olimpiade, selain ada pemain putri asal Sulawesi Utara, Greysia Polii, ada atlet asal Sulawesi Tenggara, Aprialini Rahayu. Keduanya merebut medali emas ganda putri.

BACA JUGA:  Ditemukan Ratusan Peluru dan Mortir

Lalu, muncul perebut medali tunggal putra yang bermarga Batak Karo. Antony S Ginting. Meskipun bermarga Batak, pemain ini kelahiran dan dibina klub di Kota Cimahi, Jawa Barat. Sementara, peraih medali terbanyak Paralimpiade, dua emas dan satu perak, adalah atlet dari provinsi Riau.

Semua ini menunjukkan memang seharusnya bulutangkis punya tempat sendiri dalam pembinaanya. Semua ini menunjukkan bahwa anak Indonesia, jika dibina dengan baik, bisa berprestasi di tingkat dunia.

Kita harapkan, selain campurtangan pemerintah semakin dalam dan nyata dalam   pembinaan bulutangkis di negeri ini, para pemangkukepentingan, terutama pemilik   klub, semakin “gila” membina bulutangkis.

Harapan kita, melalui pembinaan yang ada dalam Garis Besar Desain Olaharaga Nasional (GBDON) , akan semakin Indonesia bulutangkis. Semua anak Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, bermain bulutangkis dan berprestasi. Semoga. (Sam Lantang,  wartawan sepuh, tinggal di Depok)

News Feed