oleh

Tebing Sungai Amblas, Motor Terjungkal

Tebing Sungai Ciawi amblas. (dien)

JAKARTA –  (Kuningan) Warga Desa Cirukem Kecamatan Garawangi dihebohkan oleh amblasnya penahan tebing aliran sungai Ciawi, Senin, sehingga kendaraan bermotor terjungkal. Seperti dilaporkan mimbar-rakyat.com grup siberindo.co.

Akibat hujan intensitas sedang yang berlangsung sejak pagi hari, tebing setinggi 20 meter dengan panjang 10 meter itu amblas ke dalam sungai, bersamaan dengan sepeda motor dan gerobak kaki lima milik warga Desa Kadatuan.

Berdasarkan informasi warga Desa Kadatuan, Didi Noer, saat kejadian hujan masih berlangsung.

Baca Juga  Pengungsi Diskrining dan Perawatan Dipisah, Pasca Gempa Sulbar

“Motor tersebut milik pedagang Mie Gulung bernama Ohan Budiman warga Kadatuan.  Kebetulan ia sedang berteduh di pos ronda tak jauh dari lokasi, dan ia sendiri selamat, ” jelasnya.

Kemudian warga sekitar bersama aparat desa bergotongroyong mengevakuasi kendaraan motor yang ikut terjungkal ke dalam sungai.

“Karena longsor sebagian badan jalan terbawa amblas. Kami menutup jalan sementara karena kendaraan roda empat tidak bisa melintas,” jelasnya.

Baca Juga  Tingkatkan Kepatuhan Protokol Kesehatan, Parekraf di Kepulauan Riau Berkomitmen

Saat ditemui di lokasi kejadian, Kepala Pelaksana BPBD Kuningan, Indra Bayu Permana mengatakan, tanah amblas diakibatkan hujan dengan intensitas sedang terjadi sejak pagi hari hingga sore.

“Akibatnya TPT bahu jalan sungai Ciawi penghubung Desa Cirukem dengan Desa Kadatuan amblas sedalam 20 meter,” paparnya.

Pihaknya pun telah mengirimkan pihak asesment, dan mengevakuasi satu unit motor, serta memasang rambu – rambu untuk meminimalisir adanya bahaya.

Sementara itu, Aleg Komisi III Sri Laelasari berharap pemerintah kabupaten Kuningan untuk segera merealisasikan perbaikan TPT.

Baca Juga  Talas Bermanfaat Cegah Kanker dan Sakit Jantung

“Karena ini harus segera ditindaklanjuti.  Kami dari Komisi III akan segera berkoordinasi langsung dengan dinas terkait, sebab ini juga untuk kepentingan masyarakat,” katany saat memantau langsung di lokasi terjadinya longsor.

Jangan sampai berlarut – larut, sambungnya, agar perekonomian masyarakat tidak terhambat sebab bahu jalan yang longsor merupakan penghubung banyak desa.

Akibat longsor tersebut, warga desa harus memutar jalan sejauh satu kilometer, menuju Kuningan.  (dien/arl)

News Feed