oleh

Tragedi Ke Mans Tahun 1955, Petaka dan Pelajaran

Tragedi di lintasan balap pada 1955. (le mans)

Siberindo.co (Jakarta) – Dalam ajang motorsport apa pun selalu saja ada momen (tragedi), di mana pelajaran besar diambil dari insiden itu. Seperti dilaporkan mimbar rakyat.com grup siberindo.co

Kalau F1 punya tragedi Ayrton Senna di Imola tahun 1994, maka pada 24 Hours of Le Mans menjadikan tragedi 1955 sebagai pemicu pembenahan penyelenggaraan.

Pada dekade tersebut adalah lazim pebalap F1 bisa ikut juga 24 Hours of Le Mans. Ada dua hal, pertama karena jumlah seri F1 masih sedikit dan kedua lantaran tuntutan stamina tidak sebesar di era modern.

Juan Manuel Fangio (Argentina), yang saat itu sudah jadi juara dunia F1 dua kali, bertarung dengan dua pebalap F1 asal Inggris, Mike Hawthorn dan Stirling Moss.

Kejadian itu melibatkan Hawthorn (Jaguar), Lance Macklin (Inggris, Aston Healey), Pierre Levegh (Prancis, Mercedes), dan secara tidak langsung Fangio. Tanggal kejadian, ironinya, sama dengan penyelenggaraan 24 Hours of Le Mans tahun ini, 11 Juni.

Baca Juga  Atlet Bekasi Sumbang Dua Medali Emas Jabar

Singkatnya, di lintasan ada tiga mobil beruntun: Hawthorn, Macklin, Levegh yang sudah di-overlap, dan Fangio.

Hawthorn ingin melakukan pit stop di sebelah kanan lintasan. Dan tanda untuk itu adalah dengan mengangkat tangan, karena belum ada line penanda ke pit entry. Hawthorn sudah mengangkat tangan, namun dibarengi dengan mengerem keras dan itu membuat Macklin kaget sehingga banting setir ke kiri.

Baca Juga  Buah Kecapi Bermanfaat Jaga Kesehatan Tulang dan Gigi

Aksi Macklin itu membuat Levegh yang persis di belakangnya menabrak dia dan keduanya terbuang ke kiri dan arah penonton. Sementara itu Fangio yang ada di belakang semua kejadian itu malah selamat karena bisa menghindar.

Levegh menjadi yang paling parah. Mobil Mercedesnya terpental dan bahkan patah, plus menimpa penonton dengan kobaran api yang ditimbulkannya. Levegh tewas, begitu juga dengan 84 penonton. Ini belum ditambah mereka yang mengalami cedera ringan dan parah.

Balapan sempat dihentikan, namun kemudian karena beragam pertimbangan dilanjutkan oleh Race Director, Charles Faroux. Ironinya lagi, Hawthorn yang dianggap sebagai penyebab tragedi malah memenangi balapan, di mana pada separuh jalan semua mobil Mercedes dan Ferrari sudah memutuskan tidak melanjutkan lomba.

Baca Juga  BNPP: Tim Posko Kepri di Batam Harus Action

Imbas dari kejadian ini adalah banyak negara memberlakukan ketat penyelenggaraan balapan, walau 24 Hours of Le Mans sendiri tetap diadakan pada tahun berikutnya. Perbaikan dilakukan di banyak sektor terutama dari sisi safety. Line ke arah pit kemudian menjadi kewajiban di Le Mans.

Mercedes mundur dari semua motorsport yang waktu disebut sampai batas waktu tidak ditentukan.

Swiss bahkan baru mencabut larangan penyelenggaraan balapan pada 2015 dan hanya mengizinkan balap mobil listrik digelar. Dan ajang itu adalah Formula E, Bern e-Prix.  (arl)

News Feed